Ini novel ke lima
karya Tere Liye yang saya baca setelah sebelumnya membaca Rembulan tenggelam di
wajahmu, daun yang jatuh tak pernah membenci angin, sepotong hati yang baru,
sunsite bersama Rosie dan yang baru selesai Rindu. Diantara kelima judul diatas
yah, saya lebih suka Rembulan tenggelam di wajahmu, Tapi untuk keseluruhan
semua novelya Bagus saya suka, kata katanya ituloh berrr, saya Rasa bang Tere
Liye ini salah satu orang yang memiliki pemahaman yang baik yang menciptakan
tokoh pria berwajah menyenangkan dan Gurutta serta sifatnya kan dia, jadi pen ketemu siapa tau dia bisa bicara
banyak kalau diminta pendapat tentang cerita hidup saya. hehe
Kembali ke Novel
RINDU
Kisah perjalanan
ribuan orang di atas Kapal Blitar Holland untuk menunaikan Ibadah Haji.
Untuk menemui
KeRinduan yang sesungguhnya.
di dalam Novel ini ada 5 cerita berbeda yang semua di
jelaskan mulai pertengahan hingga akhir , sebenarnya novel Rindu ini Novel Tere
Liye Tertebal yang pernah saya baca memiliki
544 halaman dan sejujurnya novel Rindu ini memang banyak sekali basa basinya,
awalnya saya bingung karna sampai halaman 200 san belum ada komplik sama sekali
masih seputar Anna, Elsa dan keluarga, Ambo Uleng yang suka melamun depan
jendela atau Romantisme Mbah kakung dan mbah Putri. Tapi bukan lagi kalau
berhenti di tengah jalan, bukan pribadi saya, jadi saya baca terus sampai
cerita pertama di bahas, di novel ini membahas Lima Pertanyaan 4 diantaranya
dijawab oleh Gurutta,
pertanyaan pertama oleh Bonda Upe yang ternyata semasa
hidupnya pernah dia jalani sebagai seorang Cabo atau Pelacur, apakah
Allah akan menerimanya di tanah suci? saya suka sekali cara Gurutta menjelaskannya cara terbaik menghadapi masalalu adalah
dengan di hadapi berdiri gagah mulailah dengan damai menerima masa lalumu. Buat
apa dilawan? Di lupakan? Itu sudah menjadi bagian dari hidup kita. Peluk semua
kisah itu berikan ia tempat terbaik dalam hidupmu, itulah cara terbaik
mengatasinya. Dengan kau menerimanya. Perlahan lahan dia akan memudar sendiri,
di siram oleh waktu di poles oleh kenangan baru yang bahagia. Itu beberapa kutipan gurutta saat
menjelaskan tentang masalalu bonda Upe.
Yang kedua, pertanyaan dari daeng adipati Apa Arti kebahagiaan Yang sebenarnya? Di
sini kisah daeng adipati yang sepanjang hidupnya sangat membenci sang Ayah yang
berlaku kasar terhadap keluarga mereka bahkan ketika ibunya sudah meninggal. di
gambarkan sosok ayah yang amat kejam.
Lagi lagi Gurutta menjelaskannya dengan amat sempurna membuat hati para
pembaca nge EHH tiba tiba. Gurutta Said kesalahan
itu ibarat Halaman Kosong tiaba tiba ada yang mencoretnya dengan keliru, kita
bisa memaafkanya dengan menghapus tulisan tersebut. entah itu dengan penghapus
biasa , dengan penghapus canggih, atau apapun. Tapi tetap tersisa bekasnya.
Tidak akan hilang, agar semuanya benar benar bersih, hanya satu jalan
keluarnya bukalah lembaran kertas baru
yang benar benar kosong. haaa! padahal gurutta dalam cerita ini sudah
berusia 70an.
Nah pertanyaan yang ketiga, sebenarnya saya menunggau
permasalahannya Ambo Uleng tapi ternya permasalahan ambo Uleng ada di
pertanyaan ke 4
Pertanyaan ketiga milik mbah kakung, yah kakek usia 80 an
yang romantismenya bersama sang istri terkenal sepanjang sudut kapal. Kenapa istrinya harus meninggal disaat
mereka sudah sedikit lagi dari tanah suci? Kenapa harus di tengah lautan? Mbah kakung mengalami masa sulit
saat di tinggal mbah putri yang
meninggal lebih awal, padahal mereka telah berjanji akan bergandengan tangan di
depan masjidil haram, dan di kubur dengan makam yang berseblahan, tapi semua
itu menjadi tidak mungkin, pertama mbah kakung takkan bisa bersama mbah putri
di tanah suci lagi, yang kedua mbah putri harus di makamkan di tengah samudra.
Itu amat menyakitkan baginya, walhasil Gurutta kembali memberi penjelasan yang
menyejukkan hati, amat sangat. Lahir dan
mati adalah takdir allah. Kita tidak dapat mengetahuinya, pun tidak ada
kekuatan yang bisa menebaknya, Allah memberikan apa yang kita butuhkan bukan
yang kita inginkan, sesuatu yang kita anggap buruk boleh jadi baik untuk
kitasebaliknya apa yang kita anggap baik boleh jadi amat buruk bagi kita.
Aku rasa pribadi bang Tere Liye sama seperti tokoh Gurutta ini, kalau memang
seperti itu Waw..
Nah kepertanyaan yang ke 4 pertanyaan yang sesengguhnya
kutunggu tunggu sajak lembaran awal kisah dalam novel Rindu ini. Yup Ambo
Uleng.di ceritakan ambo Uleng yang lari dari kota Pare pare karna patah hati,
kekasih pujaanya akan menikah dengan pilihan orang tuanya sementara dia tidak
bisa berbuat apa apa. dan demi menghapus semua kenangan itu ia pergi, pergi
sejauh mungkin meninggalkan wanita pujaannya.
Apa itu cinta sejati ? nah
begitu bunyi pertanyaannya. dari kian banyaknya kitipan Gurutta aku mengambil
beberapa potongan Kata. cinta sejati
adalah melepaskan. Semakin sejati perasaan itu, maka semakin tulus kau
melepaskanya. Lepaskanlah! Maka besok lusa jika dia adalah cinta sejatimu, dia
pasti akan kembali dengan cara yang mengagumkan. Ada saja takdir hebat yang
tercipta untuk kita. jika dia tidak kembali, Maka sederhana jadinya, Itu bukan
Cinta sejatimu. Itu penjelasan Gurutta perihal kisah hidup yang di
ceritakan Ambo Uleng, sederhana sih masalah Si Ambo ini tapi penjelasannya itu
yang mengagumkan.
Tiba pada pertanyaan yang terakhir, pertanyaan dari siapa
Hayo?? Yang belum baca, baca dulu Gihh hehehe
Yah, sebenernya sudah kutebak sejak pertengahan buku Gurutta
memiliki salah satu dari kelima pertanyaan itu dan wusss,, aku ternyata benar.
Disini kisah yang dialami gurutta persis di halaman halam terakhir, saat kapal
Blitar Holland tiba tiba di bajak oleh Perompak Asal somalia. Gurutta amat
takut menghadapi kasus ini takut ada yang menjadi korban, keputus asaan melanda
pikiranya, malah ia mengambil kesimpulan membuat penumpang tidak terluka adalah
pilihan terbaik dan membiarkan para perompak mengambil kapalnnya. Bagaimana
jika ada yang terluka? Ambo jelas mengerti Gurutta mengaitkan
masalah ini syekh Raniri dan cinta pertamanya
yang meninggal saat melawan tentara belanda, karna saat itu tak ada yang
bisa ia perbuat untuk menyelamatkan semuanya ia membiarkan takdir mengambilnya
begitu saja! Gurutta yang amat bijaksana
menjawab pertanyaan pertanyaan dari bonda Upe, Daeng Adipati, Mbah
Kakung, Dan Ambo Uleng malah terjerat sendiri
dengan pertanyaan hidupnya yang tak kuasa ia jelaskan. Malah si Kelasi Pendiam
yang secara terkejut angkat bicara. Kita
tidak bisa melawan kemungkaran dengan benci di dalam hati atau Lisan. Kita
tidak bisa menasehati Perompak perompak itu dengan Nasehat Lembut, kita harus
menebaskan pedang! Ungkap Ambo Uleng kepada Gurutta. malam itu pertanyaan gurutta terjawab dengan tindakan
bukan dengan Lisan.
Yuppp.. setelah berhasil mengambil alih kapal dan membungkam
puluhan Perompak Kapal Blitar Holland Akhirnya Tiba di Jeddah, Ambo Uleng ikut
menunaikan ibadah Haji, Kapal Blitar Holand menuju Rotterdam hingga 3 bulan
kedepan saat menjeput para penumpang kembali, saat perjalanan pulang Ibu Anna
dan Elsa melahirkan Anak kembar yang dua duanya Laki Laki. Dan yang tak terduga
Pula Mbah Kakung meninggal Saat perjalanan Pulang jazatnya di semayamkan tepat
di perairan di mana mbah putri dulu di semayamkan. Daeng Adipati setelah tiba
di makassar berencana menemui semua saudaranya dan meminta agar bisa memaafkan
ayahnya itu. Dan yang terakhir kisah
Ambo uleng yang ternyata begitu mengejutkan, pujaan hatinya telah
dijodohkan dengan murid teman muda
ayahnya yang berasal dari Gowa itu. Ternyata adalah Gurutta, Gurutta Akhirnya
menunjjuk Ambo Uleng sebagai Murid yang
ia maksudkan dulu. Ahhh,, Akhir yang Bahagia, yah, Aku tahu!
Miss, Novel Bang Tere Liye yang selanjutnya.. aku telah
berjanji akan membaca semua novel Karya Tere Liye! Doakan
terkabul yah Gan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar